TAMPAK BAHAGIA

“Yang tampak Bahagia sebenarnya sedang menutupi penderitaan. Yang tampak menderita sebenarnya sedang merajut kebahagiaan.(iki karanganku dhewe ojo mbok hayati & amalkan)”

Seperti itulah kalimat yang ditulis kawanku. Entah dia mengutip atau memang hasil pemikirannya sendiri aku tak tahu. Yang pasti kalimat itu sangat menarik dan telah mengusikku. Membuatku bertanya apakah Aku sudah bahagia? sebahagia orang lainnya seperti yang tampak oleh penglihatan dan dugaanku?

Setiap orang tentu mempunyai ukuran tersendiri mengenai kebahagian untuk dirinya sendiri. Karena yang nampak belum tentu seperti adanya.

Jika demikian lalu mengapa Aku harus malu terlihat menderita jika Sebenarnya Aku sedang merajut kebahagiaan versi diriku sendiri?

Kawanku, bolehkah besok siang kubelikan secangkir kopi untukmu?. Karena menurutku, engkau selalu tampak bahagia didepanku.

,

Tinggalkan komentar

Bumi Djembar Wigati

Ah rasanya begitu merasa bersalahnya aku ketika judul diatas mulai Aku tulis. Ketika kakaknya lahir dengan segera aku luapkan rasa gembira itu dalam tulisan. Namun sang Adik mesti menunggu hampir setaun ketika Aku baru menyempatkan diri untuk menuliskan tentangnya.

bumi djembar wigatiSang Adik lahir tatkala keresahan sedang melanda. Aku harus bagaimana? menjadi jobless ada lah sesuatu yang tak mengenakkan. Ada tawaran untuk memperpanjang masa jabatan namun segera Aku tolak. Ingin memulai yang baru ketika mereka bertanya. Padahal seperti apa yang baru belum muncul dalam benakku.

Tibalah Kelahiran perempuan cantik mungil dalam kehidupan ku, dari rahim isriku tercinta. Di hari Sabtu 29 Maret 2014. Sekali lagi, Aku tak mempunyai keberanian untuk sekedar menemani istriku melahirkan. Hanya menunggu dibalik pintu sambil terus berdoa atas kelancaran proses kelahirannya. Rasa syukur AKu panjatkan tatkala terdengar tangisan dari dalam ruang bersalin. Terima Kasih Kepada Gusti Allah yang telah memberi amanah.

Seperti Kakaknya, bersama istri bersepakat bahwa perempuan mungil ini mesti memakai nama jawa, dimana darah mengalir dari leluhur sebelumnya. Keinginan mewujudkan rasa adil terwujud hingga jumlah huruf nama anak. Harus berjumlah 17 seperti kakaknya. Akhirnya menyisipkan satu huruf selayaknya ejaan lama agar klop. Maka kemudian kami memilih nama BUMI DJEMBAR WIGATI.

Di dalam kegundahan Aku dan istri mempunyai harapan ba
hwa apa yang ada di bumi ini adalah rejeki yang harus diupayakan dan diperjuangkan. Harapan penuh keyakinan mewujud dalam diri anak kedua. Bumi adalah sumber kehidupan yang memberikan penghidupan untuk segala mahkluk yang tinggal diatasnya. Begitu luas hingga tak perlu lagi kuatir kita akan kekurangan. Namun mesti berhati-hati dalam mengelola dan memanfaatkannya.

Anakku engkau adalah doa dan amanah yang Allah titipkan kepada Bapak dan Ibumu. Jadilah Anak yang berbakti dan bermanfaat bagi siapapun. Jagalah hidup dan Alam ini dengan sebaiknya seperti tatkala Yang Kuasa menciptanya.

Bapak dan Ibu selalu mencintaimu..

1 Komentar

Saya sudah purna (jadi mantan)

Selamat sore sahabat blog semua…

sekian lama tak menulis rasanya seperti belajar berjalan lagi. Tertatih menemukan ide yang ingin ditulis. hampir satu tahun Saya hanya melihat dan sekedar membuka laman ini. Dan baru sadar kalo sudah hampir satu tahun Saya tidak aktif di sini. Dalam jeda itu Saya disibukkan dengan usaha mencari kerja, Setelah purna tugas dari Kepala Desa.

Meskipun Saya telah purna (mantan) masih saja banyak sahabat, saudara, dan warga yang tetap memanggilku Pak Inggi. Setiap aku betulkan panggilan itu, mereka tetep saja tak mau. Kebanyakan mereka menjawab karena sudah terbiasa di lidah. Banyak juga yang masih berharap Saya untuk bersedia lagi dicalonkan menjadi Kepala Desa. Namun Saya sudah mantabkan hati untuk menjalani kehidupan yang baru jauh dari kekuasaan. Saya sadar banyak kesalahan yang pernah dulu Saya lakukan baik di sengaja ataupun tidak. Saya hanya bisa berharap semoga mereka semua bisa memaafkan kekhilafan.

Kini saya telah menjalani pekerjaan yang baru, hidup merantau jauh dari keluarga sebagai tenaga safety di perusahaan service oil company. Memulai dari bawah, masih dengan tujuan yang sama beribadah memberikan rasa nyaman kepada teman yang bekerja.

Judul blog Saya Mas Inggi Ngeblog lhoo mungkin sudah tak relevan lagi, Saya biarkan dulu karena masih bingung atau karena sudah terbiasa di lidah. 🙂

2 Komentar

Menunggu MoU

Hari-hari pada bulan oktober ini terasa sedikit lama dari biasanya.  ketika orang mengatakan menunggu adalah pekerjaan yang menjemukan memang benar adanya. Waktu seakan-akan melambat dari seharusnya. Menunggu telp dari jakarta, itulah yang beberapa hari Kami tunggu.

Kami tak ingin kejadian 3 bulan lalu terulang untuk saat ini. ketika perencanaan kegiatan seminar dan pelatihan sudah terencana dengan rapi. Semua pihak sudah terhubungi dan undangan telah tersebar, namun gagal karena  belum adanya MoU. Kami merasakan malu kepada masyarakat dan pengrajin binaan dan terlebih kepada pejabat dan pihak terkait di pemerintah daerah kabupaten. hanya berselang 3 hari dari tanggal rencana seluruh kegiatan dibatalkan.

Untuk itu kegiatan yang sama yang ingin kami adakan bulan november ini persiapannya lebih berhati-hati. Meski proposal sudah terkirim dan sudah di acc namun kami belum bergerak. masih harap-harap cemas dengan penandatangan Mou antara kami (Ormas peduli pembangunan daerah dan kemendagri). Asosiasi pengarajin batik bakaran dan instansi pun belum kami kabari.

Kami masih menunggu kabar dari jakarta. semoga Mou bisa segera di tandan tangani…..

, ,

1 Komentar

Bapak Tua Penjual Kerupuk

Minggu terakhir bulan Sya’ban biasanya diramaikan dengan ritual nyadran. Ziarah kubur sebelum ramadhan bagi sebagian kalangan menjadi sebuah ritual wajib, karena mereka percaya bahwa arwah yang mati pulang kerumah masing-masing,  perlu di jemput. Bahkan kadang-kadang ada yang memberikan sesaji yang di letakkan di depan pintu rumah sebagai tanda sambutan.

Saya pun tak ketinggalan, namun bukan karena ingin menjemput arwah yang sudah meninggal. Hanya ingin mendoakan bapak mertua dan silaturrahmi ke keluarga istri. bertiga sore itu kami berangkat. Saya, istri dan  anak kami ibenk menuju makam bapak, tak lupa kami mampir sebentar di penjual bunga di seputaran alun-alun Juwana. Kami membeli 4 buah bunga, untuk mama, Bapak dan Mbah Kakung. Satu lagi untuk Mbah putri yang seorang Nasrani. Semua kami doakan,soal sampai atau tidak nya doa tersebut biarlah Sang Pencipta yang mengurusnya.

Pada saat membeli bunga, pandangan ku tertuju kepada lelaki tua yang memanggul dua keranjang yang terlihat berat. Pakaiannya lusuh dan kulitnya legam menempel debu jalan yang sedang diperbaiki. Syahdu melihatnya berjalan menyusuri pinggir jalan terbungkuk-bungkuk menahan beban di pundaknya. Ingin kupanggil namun jarak yang agak jauh serta deru kendaraan, memaksa untuk mengurungkan niatku sementara waktu. Setelah istri berbelanja bunga untuk keperluan nyadran, Aku nyatakan niatku untuk sedikit berbagi rejeki dengan Bapak tua pemanggul keranjang tadi.

Sengaja kendaraan Saya perlambat untuk mencari bapak tua tadi, mungkin masih ada di sekitar alun-alun Juwana.Tak lama kemudian Bapak tua yang Saya cari tadi ketemu, sedang duduk di dekat toilet umum sebelah timur alun-alun Juwana. Kendaraan Saya dekatkan di tempat Bapak tua tadi beristirahat. Istriku tanpa menunggu komando segera memanggil bapak tua itu sambil membuka tas untuk mengeluarkan uang sebagai niat untuk bersedekah. Bapak tua  itu bergegas menghampiri serta memanggul keranjang yang ternyata berisi kerupuk udang mentah yang sudah dalam kemasan plastik. Saat melihat istriku mengulurkan uang dan memberi isyarat bahwa ingin bersedekah bapak tua itu langsung berbalik. Kaget kami berdua melihat respon bapak tua itu. Beliau menolak uluran sedekah kami. Kami panggil lagi namun beliau tetap menolak dan berjalan menjauh.

Baru setelah kami sampaikan akan membeli kerupuknya beliau baru berhenti berjalan dan menghampiri kami lagi. Beliau mengambil 2 pak kerupuk didalam keranjangnya. Sambil berkata kepada kami “wong nek iseh kuat angkat junjung ugak pareng njaluk-njaluk.aku iseh iso goleh duit” dalam bahasa indonesia berarti “orang yang masih kuat bekerja tidak pantas untuk meminta-minta/menerima bantuan.Saya masih bisa cari duit (dengan bekerja)..PLAKKK!!!…serasa kepala ini di tampar mendengar perkataan beliau. Segera saya ucapkan maaf  kepadanya dan menjelaskan bahwa kami tidak bermaksut merendahkan beliau.

Tamparan yang nyata bagiku atas kejadian tadi. Orang setua itu tak serenta yang aku pikirkan. Masih mampu berusaha dan pantang untuk di kasihani.Seandainya manusia di Indonesia mampu dan mau bersikap selayaknya bapak tua penjual kerupuk. mungkin tak ada lagi razia di perempatan jalan. tak ada lagi program BLT atau BLSM yang memantik konflik antar warga.

Maaf Bapak tua…kami sempat menyinggung perasaanmu..biar kami cari penggantimu yang lebih pantas mendapatkan.

, , , , ,

5 Komentar

Siang di pojok Warung

Siang itu di warung mbak wur di seputaran alon-alon Pati, Saya duduk di pojok, Bah Pego pria tua itu yang sudah mengkapling ujung bangku didepan pintu masuk sebagai miliknya, mungkin karena lebih isis. Tanpa memesan sang pemilik warung sudah bergegas membuatkan es jeruk nipis dan teh anget kecil. mungkin untuk keseimbangan. Duduk di seberangnya Mas kris pemilik toko sepatu yang cukup terkenal di Pati, berturut-turut Pak Pur, pak katno, Om Endro, Om Cincin n Mas Agung.

Sudah agak lama memang Saya tak pernah Marung, Jadi mungkin agak sedikit ketinggalan info. Obrolan di sini meski kadang ga berujung namun banyak menjadi inspirasi bagi Saya. Cletukannya out of box begitu yang sering pak Beye katakan. Sambil menyeruput kopi krim Saya senantiasa mendengar obrolan itu. Kadang tertawa namun tak jarang mengernyitkan dahi tanda tak begitu paham, bahasanya agak sulit dicerna..hehehehe

Obrolan ramai karena harga BBM yang akan naik. mereka sepakat ga ada polemik mengenai kenaikan harga minyak. karena sebuah keniscayaan untuk sebuah pekerjaan dan sumber daya yang di gali terus di iringi dengan kenaikan harga. Namun yang mereka pertanyakan adalah tak terbukanya pemerintah mengenai biaya yang dikeluarkan sebagai proses operasional hingga menjadi minyak dengan ketentuan harga tersebut. “Seperti kuli aja kita, di bodohi terus menerus,  ga isa ngitung pejabat itu” lontar bah pego. “Bukan ga isa bah, kui emang di sengaja” Sahut om cincin. hmmmm….biaya politik tinggi dealnya emang harus gitu. Lalu aku hanya menggumam, soal tanah kita juga amat bodoh atau dibodohin sampe ga pernah ngerti kandungan nya apa hingga hari ini. Dan sang negara adi kuasa tetep aja di bolehin ngeruk tanah dengan leluasa dan kita hanya di beri 1 % aja. huuuufftt..pantes tetep miskin.

“Para politisi tak ubahnya garong”  bilang om endro. “Kog bisa?. tanya mas Agung. “Coba aja cermati Anggota Dewan yang terhormat itu saat sidang di Senayan.”Jawab om Endro. Soal itu mungkin ada benarnya..Partai relijius yang ternyata kapitalis yang sok nolak kebijakan BBM hanya buat mulihin citra nya ( karena mereka juga udah tau kalo voting pun partai pemerintah tetep menang ), hmm rakyat udah makin pintar,  yang jidatnya item belom tentu karena karena sujud, yang berjenggot tak hanya kambing ( bandot kali yaaa, suka daun muda)..hehehehe..

Yang lebih miris adalah masuknya Dana untuk lapindo di APBN P. apakah ambil alih penanggulangan bencana ini murni untuk kepentingan rakyat korban lapindo atau sekedar deal politik demi kelanggengan dinasti politik??. jawaban nya hanya bisa kita tau tatkala pak Beye dan Pak ical berak..yang keluar apa?? hahahahaha

Siang yang panas di warung yang sumpek menjadikan otak meledak pengen memuntahkan keluh kesah. layaknya mempertanyakan eksistensi jaman sekarang apakah enak masa lalu seperti stiker-stiker di bak truk dan angkot itu yang mengusung bapak pembangunan kita sebagai ikonnya.

Saya sruput lagi untuk yang terakhir kali kopi yang tak lagi panas. sambil membayangkan semoga keadaan menjadi lebih baik, tak menjadi soal harga BBM menjadi 10 ribu asal IDR menjadi 1.000 terhadap $. sehingga anggapan termurah nomer 5 benar-benar terbukti. Dan insiyur indonesia segera pinter buat ngerti isi kandungan tanah indonesia.

, , , , , ,

Tinggalkan komentar

Kemendagri Usulkan Masa Jabatan Kades 6 Tahun

Sumber : www.widyaiswarakemendagri.org
JPPN, Jakarta – Desakan agar pemerintah mengangkat perangkat desa menjadi Pegawai Negeri (PNS), maupun tuntutan masa jabatan kepala desa menjadi delapan tahun, sepenuhnya akan ditentukan dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Desa (RUU Desa) di DPR.

“Sekarang kan sudah ada di DPR, jadi semua dinamika maupun pandangan yang berkembang, ada dalam pembahasan di DPR nantinya,” ujar Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri (Kapuspen Kemendagri) Raydonnyzar Moenek, di Jakarta, Jumat (14/12) malam.

Pemerintah menurut Donny -panggilan akrab Reydonnyzar Moenek-, kini sepenuhnya mengikuti mekanisme yang ada. Karena itu menanggapi ancaman perangkat desa akan memboikot Pemilu jika tidak diangkat menjadi PNS, Donny tidak ingin menyikapinya secara berlebih.

Ia hanya menyatakan pemerintah tentu mengharapkan hal yang terbaik bagi semua pihak. Apalagi disadari, perangkat desa merupakan bagian terdepan pemerintah yang bertugas melayani masyarakat. Namun begitu sebagaimana disampaikan Mendagri Gamawan Fauzi, permintaan pengangkatan perangkat desa menjadi PNS, menurut Donny, tetap disesuaikan keuangan negara.

Sementara itu terkait tuntutan masa jabatan kepala desa menjadi delapan tahun, Direktur Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dirjen PMD) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tarmizi A.Karim, sebelumnya menyatakan, usulan masa jabatan enam tahun diajukan pemerintah karena dinilai paling rasional. Usulan tersebut dimasukkan dalam RUU Desa setelah melewati pertimbangan yang matang.

“Masa jabatan enam tahun juga sebelumnya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, tentang pemerintahan daerah. Jadi dalam pandangan kita, keputusan 6 tahun itu sudah rasional dan diputuskan setelah melihat situasi yang berkembang di desa. Jadi tidak adalah masa jabatan di atas itu”katanya.

, , , , , ,

2 Komentar