Archive for category Backpakeran

Obsesi temanku pada Bubur Ayam Menteng

Sore Selepas mandi aku dan temanku keluar mencari tempat nongkrong yang enak di sekitar jakarta pusat. tujuan awal di daerah menteng. Katanya disitulah tempat mangkalnya anak-anak muda gaul di jakarta..orang desa saba kota, begitulah ceritanya. selesai tawar menawar dengan dengan abang bajaj meluncurlah kami ke menteng. sahdan kami ternyata kesasar di gondangdia, maka tak ayal kami jalan cukup jauh dari gondangdia menuju menteng. gara-gara temenku agak lupa jalannya

sampai di taman kodok, memang suasana cukup ramai. disebelahnya ada gedung yang menampung segala macam aktivitas anak muda. istilah jawa “tumplek Bleg” di daerah taman tersebut. juga tersedia bermacam-macam kuliner berjajar rapi. Namun bilang temanku ada satu lapak yang sangat istimewa. Bernama bubur ayam. setengah berpromosi dia meneruskan pembicaraannya bahwa bubur ayam ini adalah salah satu yang terenak di jakarta. sering dikunjungi artis top ibukota. pikiranku menerawang kali aja bisa ketemu Jupe atao Nikita Willy hehehe..akhirnya termakan juga aku akan rayuannnya. kerena penasaran ingin mencoba bubur ayam dan hasrat pengen ketemu nyang bahenol. maka kami pun lagi-lagi berjalan menyusuri jalan menteng sebelah Keris Gallery, seberang hero menteng.

tempat nyempil, ga akan terliat jika itu bubur ayam langganan para artis ( katanya….). sampai juga dan akhirnya memesan meskipun agak lama karena abangnya muter entah kemana. bagiku yang ga pernah makan bubur ayam rasanya biasa aja. tak jauh dari bubur yang dihidangkan suster-suster yang ada di rumah sakit. hanya yang menjadi beda adalah adanya ayam suwir, kerupuk dan daun seledri, cakwe atau kacang kedelai bahkan cheese stick juga tongcai. yang terakhir terasa dilidahku agak aneh. rasa keju kering lebih enak tempe goreng..hehhehehe

disebelah temenku makan dengan amat lahap sementara aku masih mencoba mencari sensasinya bubur ayam sambil celingak-selinguk mencari artis yang diceritakan temenku. hingga selesai makan ( aku sisain chees sticknya ) tak juga ku temui artis yang di ceritakan..akhirnya kutanyakan temanku, “mana artisnya bro?” dengan enteng sambil tertawa temanku bilang ” ini baru magrib mas, artisnya belom pada bangun !”.. wahhh kena tipu aku rupanya, rayuan itu  agar aku mau makan bubur ayam yang kegemarannya.

, , ,

10 Komentar

Astana Giribangun

MAKAM PRESIDEN RI KEDUA

Seringkali untuk mengunjungi suatu tempat, Saya tak pernah merencanakan sebelumnya. Ketika lewat Tawangmangu, Saya dan seluruh keluarga melihat  di papan penunjuk jalan ada tulisan yang menunjukkan makam Astana Giribangun. Langsung saja mobil saya belokkan menuju arah makam Presiden RI ke 2 tersebut. Tak sampai 30 menit kami sudah sampai ke kompleks pemakaman.

Tempat yang asri dengan lansekap yang sangat bagus, berada diatas bukit, mencirikan kompleks pemakaman raja-raja jawa. Setelah parkir, kami mesti lapor kepada petugas yang berada di komplek astana giribangun. Hari itu tak banyak yang berkunjung, maklum saat itu hari senin dan tidak liburan panjang.

Tak jauh kami berjalan dan sudah berada di areal kompleks makam, luas bangunan makam kurang lebih 700an meter yang terdiri dari 3 bagian.bagian luar, beranda dan bagian utama. kami masuk secara bergantian. Menurut penjaga makam ruang utama yang bernama Argo Sari dengan bagian yang dilindungi rumah berbentuk joglo gaya Surakarta ini beratap sirap dan dinding rumah terbuat dari kayu berukir gaya Surakarta pula.

Di ruangan ini hanya direncanakan untuk lima makam. Saat ini paling barat adalah makam Siti Hartini, di tengah terdapat makam pasangan Soemarharjomo (ayah dan ibu Tien) dan paling timur adalah makam Ibu Tien Soeharto. Tepat di sebelah barat makeram Ibu Tien terdapat makam Soeharto.

Untuk bagian beranda atau Argo Kembang akan ditempati penasihat, pengurus harian serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg yang mengelola pemakaman tersebut. Sementara  ini sudah ada beberapa pengurus yayasan yang dimakamkan di tempat tersebut. Sementara untuk bagian luar atau Argo Tuwuh yang berhak dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang mengajukan permohonan.

Setelah tahlil kamipun segera keluar karena ada rombongan lain yang ingin masuk kedalam. Pak Harto dan Bu tien dengan segala kontroversi yang ada, adalah orang yang patut kita ingat jasa-jasanya..seperti falsafah beliau. Mikul Dhuwur Mendem Jero

, , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Jogjakarta (4) : Museum Ullen Sentalu

Sudah mulai gelap ketika kami sampai di pintu masuk Ullen Sentanu, hanya ada Saya dan istri serta 2 orang ibu dari jakarta. Ketika kami tanya petugas tiket masuk, tak segera kami di beri tiket tanda masuk. Mesti berkomunikasi dulu dengan petugas pemandu karena memang jam tutup Museum tinggal 10 menit lagi. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 25.000 ( wisman dua kali lipatnya) kami dipersilahkan masuk dengan catatan jam kunjungan hanya 30 menit, separuh dari jam kunjungan biasanya.

Atas permintaan dari pemandu kami harus mematikan kamera. seperti yang dituturkan pemandu bahwa Museum Ullen Sentalu mulai dirintis pada tahun 1994 dan diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997, yang merupakan tanggal bersejarah bagi kota Yogyakarta. Peresmian museum dilakukan oleh KGPAA Paku Alam VIII, Gubernur DIY pada waktu itu. Secara kepemilikan, museum swasta ini diprakarsai keluarga Haryono dari Yogyakarta dan berada di bawah payung Yayasan Ulating Blencong dengan penasehat antara lain: I.S.K.S. Paku Buwono XII, KGPAA Paku Alam VIII, GBPH Poeger, GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, Ibu Hartini Soekarno, serta KP. dr. Samuel Wedyadiningrat, Sp.(B). K.(Onk).

Museum Ullen Sentalu Terletak di kawasan wisata Kaliurang tepatnya di dalam Taman Kaswargan dengan luas tanah 11.990 m2. Secara filosofis, nama Kaswargan dipilih karena terletak di ketinggian lereng Gunung Merapi, di mana kultur masyarakat Jawa menganggap Gunung Merapi sebagai tempat sakral. Kaliurang merupakan kawasan wisata gunung dengan jarak 25 km dari pusat kota Yogyakarta,

Museum Ullen Sentalu di buat dibawah tanah sehingga beberapa kali kami harus bergelapan-gelapan karena operator museum mematikan listrik tepat pukul 4 sore, akhirnya pemandu membawa lampu darurat untuk menerangi lorong-lorong museum yang kami lalui

Pemandu menerangkan bahwa Visi museum Sebagai Jendela peradaban seni dan budaya Jawa dan juga mempunyai Misi  untuk  Mengumpulkan, mengkomunikasikan dan melestarikan warisan seni dan budaya Jawa yang terancam pudar guna menumbuhkan kebanggaan masyarakat pada kekayaan budaya Jawa sebagai jati diri bangsa

Profil per Ruang Hingga saat ini Museum Ullen Sentalu sudah memiliki beberapa ruang, yaitu Ruang Selamat Datang, Ruang Seni Tari dan Gamelan, Guwa sela Giri, 5 ruang di Kampung Kambang, Koridor Retja Landa, serta Ruang Budaya. a. Ruang Selamat Datang

Selain sebagai “Ruang Penyambutan tamu/pengunjung museum”, di bagian ruang ini juga terdapat banner latar belakang pendirian museum Ullen Sentalu serta arca Dewi Sri, simbol kesuburan.

b. Ruang Seni Tari dan Gamelan

ruang ini memamerkan seperangkat gamelan yang merupakan hibah dari salah seorang pangeran Kasultanan Yogyakarta dan pernah dipergunakan dalam pertunjukkan wayang orang dan pagelaran tari di kraton Yogyakarta. Selain itu, di ruang ini juga terdapat beberapa lukisan tari.

c. Guwa Sela Giri.

Suatu ruang pamer yang dibangun di bawah tanah, karena menyesuaikan dengan kontur tanah yang tidak rata. Ruang ini berupa lorong panjang yang merupakan perpaduan Sumur Gumuling Taman Sari dan gaya Gothic. Arsitektur Guwa Sela Giri didominasi dengan penggunaan material bangunan dari batu Merapi. Ruang ini memamerkan karya-karya lukis dokumentasi dari tokoh-tokoh yang mewakili figur 4 kraton Dinasti Mataram. Melalui karya-karya lukis dokumentasi para tokoh yang dikemas dalam karya fine arts serta didukung kelengkapan data sejarah yang berkaitan, maka suatu interaksi antara karya seni, pengungkapan data-data seni budaya dan sejarah dari suatu peradaban yang intangible dapat terkomunikasikan secara kaya dan bebas.

d. Kampung Kambang

Merupakan areal yang berdiri di atas kolam air dengan bangunan berupa ruang-ruang di atasnya. Konsep areal ini diambil dari konsep Bale Kambang dan konsep Labirin. Kampung Kambang terdiri dari lima ruang pamer museum, yaitu: Ruang Syair untuk Tineke, Royal Room Ratoe Mas, Ruang Batik Vorstendlanden, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan.

f. Sasana Sekar Bawana

Di ruang ini dipamerkan beberapa lukisan raja Mataram, lukisan serta patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta.

Di akhir kunjungan kami mendapat mendapat suguhan minuman spesial yang resepnya merupakan warisan Gusti Kanjeng Ratoe Mas, putri Sultan HB VII yang disunting sebagai permaisuri Raja Surakarta, Sunan PB X. Konon, minuman ini memberi kesehatan dan awet muda. Namun ketika Saya tanya apa resepnya, pemandu hanya bilang rahasia..harus sering kesini kalo gitu. biar awet muda hehhehe

Areal Taman Kaswargan didominasi oleh hutan alami sehingga sangat pas jika untuk foto pre wedding, Saya pun tak ketinggalan foto-fotdan bagian-bagian taman yang menonjolkan atmosfer pegunungan. Pada bagian-bagian tertentu terdapat patung-patung yang menjadi museum outdoor. – Beukenhof Restaurant

Rancang bangun Taman Kaswargan sebagai obyek wisata budaya dan alam tak terelakkan harus dilengkapi dengan sarana pendukung lain, seperti restaurant. Restaurant Beukenhof diambil dari bahasa Belanda yang berarti bangunan yang dikelilingi pohon-pohon, seperti yang dapat pengunjung nikmati di restaurant dengan bangunan yang dirancang bergaya arsitektur kolonial .

– MUSE

Toko souvenir didirikan sebagai pendukung dalam unsur pariwisata kawasan Taman Kaswargan.

 

, , , , , , , ,

2 Komentar

Jogjakarta (3) : Museum Gunung Merapi

Ceritanya kami tersesat , sewaktu mencari Museum UllenSentalu. Selepas dari Bebeng-Kaliadem banyak rambu yang rusak dan Saya lupa jalan tembus yang menuju kaliurang, Saya hanya  ngikutin papan penunjuk museum, tak tahunya justru nyampe ke Museum Gunung Api Merapi (MGM) ini.

Terletak sekitar 2 km dari Kawasan wisata Kaliurang,  di lereng Merapi, tepatnya di Jalan Boyong, Dusun Banteng, Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman. Menempati areal yang cukup luas, menurut profil museum mempunyai luas bangunan sekitar 4,470 yang berdiri di atas tanah seluas 3,5 hektar, museum yang ke depan juga akan dilengkapi dengan taman, area parkir, dan plasa ini ingin dikenal masyarakat sebagai ‘Museum Gunungapi Merapi, Merapi Jendela Bumi’.

Museum ini mungkin di siapkan menjadi geo-wisata di DIY serta diharapkan menjadi wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunungapi, gempabumi, dan bencana alam lainnya.Museum Gunungapi ini juga dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan, penyebarluasan informasi aspek kegunungapian khususnya dan kebencanaan geologi lainnya yang bersifat rekreatif-edukatif untuk masyarakat luas dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, maupun sosial-budaya dan lain-lain yang berkaitan dengan gunungapi dan sumber kebencanaan geologi lainnya.

Belum banyak pekerja yang ada disana, mungkin baru akan diresmikan. Masih sepi dan tak adanya pemandu yang ada di museum menjadikan kami kesulitan memahami apa yang ada di museum, Saya hanya bisa membaca informasi dari selebaran yang ada di museum diantaranya:

1. Informasi ilmiah kegunungapian, kegempaan dan gerakan tanah yang merupakan proses dinamika geologi, dicerminkan diantaranya dalam informasi model pembentukan, mekanisme terbentuknya maupun proses-proses yang menyertainya.
2. Informasi fenomena gunungapi terbentuk sebagai hasil proses-proses geologi, yang tampil dipermukaan bumi diantaranya berupa bentang alam gunungapi, struktur geologi gunungapi, produk hasil letusan gunungapi, dan produk-produk hasil proses lainnya.
3. Informasi mitigasi bencana gunungapi, gempabumi, tsunami, gerakan tanah yang ditampilkan dalam bentuk informasi sistem monitoring, penelitian dan pengamatan, sistem peringatan dini, dan upaya mitigasi bencana diantaranya menyangkut sistem penyelamatan masyarakat terhadap ancaman bahaya letusan gunungapi, kegempaan dan gerakan tanah.
4. Informasi sumberdaya gunungapi, sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat, pengembangan infra-struktur dan lainnya.
5. Informasi aspek sosial budaya diantaranya menyangkut kehidupan, budaya/tradisi, mitos dan lainnya yang berkaitan dengan lingkungan dan keberadaan suatu gunungapi

Design gedung yang futuristik sangat menarik untuk spot foto. Puas melihat-lihat kamipun meneruskan mencari dan menuju Museum UllenSentalu.

, , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Jogjakarta (2) : Bebeng-Kaliadem

Setelah dari rumah Mbah Marijan Saya dan istri, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bebeng-Kaliadem. Gerimis menyertai kami menuju ke gardu pandang yang ada disana. kami bertedung di tempat parkir yang dibangun seadanya setelah letusan Gunung Merapi yang menewaskan salah seorang relawan didalam bunker akibat terperangkap awan panas (wedus gembel).

pintu tiket masuk pun dibuat seadanya,  hanya dari batang pohon bambu dengan 2 orang penjaga. jajaran toko-toko yang menawarkan suvenir dan makanan juga masih seadanya. hamparan tanah yang dulu hijau sekarang hanya ada pasir dan batu seukuran badan orang dewasa, bahkan ada yang seukuran rumah. Bukit yang dulu tebentang hutan cemara tak lagi hijau. Hanya ada beberapa pengunjung yang berjalan di sekitar bunker. membayangkan penderitaan relawan yang tewas didalamnya.

Di dekat runtuhan bangunan ada penjual edelweis.seorang ibu dengan kedua anaknya..hmm..jadi inget masih lalu. rayuan gombal dengan bunga edelweis. hehehhehe..ga jadi diterusin ah.bahaya !!.. tak jauh dari bangunan itu terhampar sungai yang curam sebagai jalur lava dari Gunung Merapi. agak jauh berdiri dari bibir sungai karena kerikilnya banyak dan agak licin karena gerimis beberapa  saat baru berhenti.

Hanya sekitar 30 menit kami di Bebeng-Kaliadem, waktu sudah agak sore, demi mengejar jam buka Museum Merapi dan Museum Ullen Sentanu yang ada di kaliurang.

, , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Jogjakarta (1) : Mbah Maridjan (M.Ng Suraksohargo)

Perjalanan ini  adalah pertama kali kami lakukan semenjak menikah. Karena bisa dikatakan selama berpacaran kami tidak pernah keluar untuk jalan bareng. Kami pun merencanakan untuk ke kota Jogjakarta. Meskipun Saya 6 tahun di kota ini namun jarang-jarang menghabiskan waktu untuk berlibur ke tempat wisata..mahasiswa kuper kali ya.hehehehe. Wisata kaliurang yang hanya berjarak 10 km aja bisa dihitung dengan jari berapa kali Saya kesana.

6 jam perjalanan dari Pati – Jogjakarta. Dengan naik bus yang tiketnya sudah naik lipat 2 dari awal Saya kuliah. Tiba di Jogjakarta sudah malam sekitar pukul 9. kemudian langsung menuju ke rumah saudara di daerah penghasil bakpia pathuk.

…………………………………………………………………………………………

Pagi kami dah berangkat, ada banyak tempat yang ingin kami kunjungi. Selain tempat wisata, kami ingin sowan ke Bapak kos yang sudah Kami anggap seperti Bapak sendiri untuk silaturahmi. Bapak kos Saya meskipun sudah sepuh masih keliatan sehat. Maklum tiap bagi beliau selalu jalan kaki ke pasar atau pun ke tegalan. Sekitar 2 jam kami ngobrol kangen-kengenan, maklum sudah 6 tahun kami tak pernah bertemu semenjak kelulusan Saya pada tahun 2004. waktu yang berlalu seakan cepat dan rasanya baru kemaren aja. meskipun belum puas kami mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Tujuan pertama kami menuju rumah kediaman mbah Marijan ( kami berkunjung tepat 1 minggu sebelum mbah marijan meninggal ). 2 kali Kami bertanya kepada warga sekitar untuk menunjukkan rumah mbah Marijan. rumah sederhana dengan banyak berjajar kursi. hal ini cukup wajar mengingat Mbah Marijan cukup terkenal sebagai juru kunci yang bagi kalangan awam tak manut kepada Sultan HB X. terlebih ketika beliau membintangi iklan salah satu produk minuman. keterkenalan Mbah Marijan terlihat tatkala Kami membubuhkan tanda tangan untuk buku tamu yang sudah disediakan. Tamu mbah Marijan Sangat banyak dan tersebar dari seluruh Nusantara bahkan sampai luar negeri.

Kami menunggu beberapa saat sebelum bisa bertemu dengan Mbah Marijan, ada rombongan  tamu dari Sulawesi yang belliau terima. di dinding sebelah barat rumah Mbah Marijan terpampang foto Sultan HB I – HB X, namun foto-foto yang dominan adalah foto HB yang IX. nanti akan Saya tanya alasannya. terpampang pula foto diri dan karikatur Mbah Marijan yang di buat oleh seniman dalam sebuah acara yang dihadirinya. Disebelah foto-foto tersebut ada tombak dan beberapa piagam.

Sekitar 20 menit kemudian tamu dari Sulawesi berpamitan. Tinggal Saya dan istri yang ada. Mbah Marijan menghampiri kami yang duduk di deretan kursi sebelah barat. Setelah memperkenalkan diri. obrolan sedikit agak mencair. Beliau pribadi yang humoris dan sangat sederhana. hal ini terlihat dari hasil dari iklan minumannya sebagian besar disumbangkan untuk membangun Masjid tak jauh dari rumahnya. sementara beliau hanya tinggal dirumah yang kecil. Mbah Marijan juga tak mau di foto bersama, beliau mengatakan karena tak ingin menjadi orang yang sombong. oh ya perbincangan kami lebih dominan menggunakan bahasa jawa karena beliau agak keberatan ngobrol dengan bahasa indonesia ( menurut beliau = bahasa gedrig ).

Ada yang menarik ketika Saya bertanya mengenai alasan Mbah Marijan tak mau turun sewaktu gunung merapi meletus ( sampai dengan letusan yang kedua ). Beliau berpendapat bahwa yang mengangkat adalah HB IX,  untuk bertugas menjadi juru kunci, pantang bagi Beliau untuk lari dari tanggung jawab meskipun yang memerintah sudah lama meninggal. Kesetiaan dan rasa hormat yang tinggi kepada atasan yang menjadikan mbah Marijan seolah menjadi orang yang membangkang. Sikap Amanah terhadap tugas yang diemban dengan rasa tanggung jawab ( bahkan sampai meninggalnya ) inilah yang tak pernah kita temui dalam diri pejabat kita sekarang. Amanah adalah barang basi bagi politisi.

Tak terasa hampir satu jam kami berbincang dengan mbah Marijan. Banyak petuah yang bisa menjadi contoh. Kesederhanaan, tanggung jawab, Amanah dan mempunyai loyalitas tinggi adalah sikap yang mesti kita ikuti. kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Sayang….Tepat satu minggu setelah kedatangan Kami kerumah Mbah Marijan. Kami mendengar beliau meninggal dalam tugas menjaga Gunung Merapi dengan posisi sujud…Selamat Jalan Mbah Marijan Moga Arwahmu di diterima disisi Nya…Aminn

ROSA…ROSA…ROSA !!!!

, , , , , , , ,

3 Komentar

Tour d’east Java (5) : Telaga Sarangan

Tepat Pukul 10 Pagi. Kami keluar dari Kota Batu, Malang. atas saran dari pegawai hotel kami naik bus puspa indah menuju kediri. Sekitar 2 jam perjalanan kami tiba di kediri. Kemudian melanjutkan dengan pindah bis menuju nganjuk. Dari perjalanan ini kami baru tahu jika yang kami tempuh ternyata memutar. Kami seharusnya dari Batu Malang bisa langsung menuju Jombang. Kemudian naik bus jurusan Surabaya – Jogja. Tak Apalah namanya juga tour..hehehhe.. terhitung sebanyak 6 kali kami naik turun pindah bus.

Pukul 6 sore dan  Hujan turun sangat lebat sewaktu kami turun di Maospati. Sudah tak ada lagi angkutan menuju telaga Sarangan. Saya biarkan istri yang saat itu mengandung 3 bulan untuk sejenak beristirahat di warung kopi, sementara saya berjalan mencari ojek atau tumpangan menuju telaga. Sekitar setengah jam berjalan, Saya melihat sebuah mobil pick up yang mengangkut sayuran sedang membeli bensin di warung dekat terminal. Saya dekati dan meminta tumpangan sampai ke Telaga Sarangan.

Telaga Sarangan terletak di perbatasan antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah tepatnya di bagian barat Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga Sarangan terletak di lereng Gunung Lawu (3.265 m). Sampai di Telaga Sarangan suasana sangat ramai. maklum saat itu weekend. Kami berdua berkeliling mencari hotel Nusa Indah milik kawan kuliah Saya. Hotel Nusa Indah berada kurang dari 100 meter dari telaga sarangan. hmm…maksut hati pengen pilih kamar yang view menghadap timur. Namun karena hotel full booked n Kami menginap gratis, akhirnya tak punya pilihan selain yang sudah di sediakan sang empunya hotel..hehehe.

……………………….

Pagi sekali kami bangun untuk menikmati sejuknya udara pagi. berkeliling danau dan mencari makan pagi, yang khas tentu pecel madiun dan sate kelinci. Disekitar telaga banyak toko yang menjajakan sovenir khas Telaga Sarangan seperti tas, kaos, sandal dan sayuran. bagi yang ingin berkeliling danau lewat darat disediakan persewaan kuda dengan tarif yang terjangkau. atau bagi yang ingin berspeedboat juga disediakan. Puas berkeliling kami kembali ke hotel.

Kunjungan ke Telaga Sarangan juga untuk memenuhi janji kepada Mas Agus Supriyanto Kawan sewaktu  kuliah di Universitas Islam Jogjakarta. Saya dan Mas Agus pernah kecelakaan bersama yang hampir merengut nyawa kami berdua  sewaktu perjalanan untuk Kuliah Praktek pada tahun 2002. Pada saat itu Saya berjanji untuk berkunjung saat Saya sembuh, namun janji itu baru terpenuhi 9 tahun kemudian.

Setelah kami ngobrol dengan keluarga mas Agus Supriyanto sang pemilik hotel Nusa Indah, kamipun berpamitan dengan tak lupa menyampaikan  permohonan maaf karena baru bisa memenuhi janji saat ini dan juga rasa terima kasih karena sudah diberi penginapan gratis.

Perjalanan Pulang ke Pati tak jauh berbeda dengan perjalanan Malang-Magetan. Kami mesti berpindah-pindah bus kecil sebanyak 7 kali. yaitu Sarangan-Magetan. Magetan-Maospati. Maospati-Ngawi. Ngawi-Cepu. Cepu-Blora. Blora-Rembang. Rembang-Pati. Menjelang isya Kami bari sampai kota Pati.

, , , , , , ,

8 Komentar